Tampilkan postingan dengan label Peralatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peralatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2015

Pada posting kali ini saya akan membahas tentang "Sensor Controller", yang merupakan salah satu peralatan dalam kontrol mesin industri ringan yang berkaitan langsung dengan peralatan Proximity Switch yang sudah dibahas sebelumnya. Klik disini untuk mempelajari Proximity Switch dan sistem kerjanya.


Beberapa jenis Proximity Switch selain bisa dikoneksikan dengan perangkat PLC, juga bisa dikoneksikan langsung dengan beberapa macam peralatan kontrol semi digital ringan seperti Sensor Controller dan Digital Counter Relay, untuk keperluan kontrol mesin-mesin industri yang tidak perlu atau tidak mendesak menggunakan PLC sebagai automatisasi kontrolnya.

Sensor Controller ini bisa juga disebut sensor amplifier tunggal sama seperti Digital Counter Relay, Klik disini untuk mempelajari Digital Counter Relay dan sistem kerjanya. Fungsi kerja yang diharapkan dari Sensor Controller ini mirip dengan TDR (Timer) dan Relay, yakni mempunyai output yang sama dan dibutuhkan yaitu kontak-kontak NC NO-nya. Hanya saja Sensor Controller dan Digital Counter Relay ini membutuhkan peralatan External seperti Photoelectric sensor atau inductive dan Capacitive proximity sensor untuk membuat perubahan kerja kontak-kontak NO NC-nya.

Ada beberapa jenis Sensor Controller yang ada dipasaran seperti pada produk Omron dan Autonics. Omron mengeluarkan produknya untuk dua koneksi sensor yang umumnya digunakan untuk level capacity pada tangki, juga bisa digunakan pada presisi benda, seperti dalam gambar dibawah ini.




Sedangkan untuk Sensor Controller Autonics, mengeluarkan sebuah produk satu input koneksi sensor yang bisa disebut sensor amplifier tunggal murni, karena fungsi dan cara kerjanya yang sederhana yakni mengandalkan input signal dari proximity sensor dan beroutput pada bekerjanya kontak-kontak NC NO-nya. Berikut Gambar dan Diagram koneksinya.


Selain itu soket Sensor Controller ini juga kompatibel dengan soket standard 8 pin yang biasa digunakan oleh Timer, seperti pada gambar dibawah ini.



Cara Kerja dan Gambar Rangkaian

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, prinsip kerja Sensor Controller ini mengandalkan input signal dari proximity sensor dan beroutput pada bekerjanya kontak-kontak NC NO-nya, maka saya menggambarkannya dalam sebuah perbandingan wiring diagram rangkaian Lift dua lantai yang sudah dibahas sebelumnya. Berikut gambarnya.

 gambar perbandingan wiring diagram rangkaian dasar Lift 2 Lantai

Dalam gambar diatas, saya mengganti fungsi limit switch dengan kontak NC dari sensor controller. Perhatikan penambahan komponen Sensor Controller pada gambar diatas, yang saya singkat dengan SC1 dan SC2.

Cara kerja

Perhatikan gambar animasi dibawah ini.. saya mengganti letak limit switch dengan sensor proximity switch yang sudah terhubung ke rangkaian sensor controller. Penggambaran letak limit switch dan sensor proximity switch pada gambar dibawah ini saya hanya menyederhanakannya saja, agar anda bisa melihat bagaimana sebuah sistem sensor controller itu bekerja.



gambar animasi fungsi rangkaian sensor controller lift barang

Ketika permukaan sensor proximity mengenai atau berdekatan dengan body lift, dia akan bekerja dan merubah fungsi NC dari sensor controller menjadi NO, sehingga akan memutus rangkaian naik atau turun. Sehingga bisa dikatakan fungsi rangkaian sensor proximity dengan sensor controller disini adalah sebagai pengganti dari limit switch konvensional.

Demikian saja pembahasan saya tentang Sensor Controller ini. Untuk pertanyaan yang ada, mungkin bisa ditulis di page Elektro Mekanik atau mention di twitter Elektro Mekanik https://twitter.com/elektro_mekanik

 


Semoga bermanfaat...

________________________________
Sumber: http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..

Minggu, 20 Oktober 2013

Sebenarnya artikel ini adalah artikel dasar yang menarik untuk diulas kembali disini. Karena pembahasan tentang transformator 3 phasa yang umum dipakai diindustri atau sistem distribusi listrik PLN ini, banyak sekali terdapat cabang keilmuannya. Antara lain adalah tentang polaritas, vektor grup, name plate, sistem proteksi dan lainnya, yang apabila dibahas secara utuh akan lumayan memakan banyak waktu dan pikiran.

Khusus kali ini saya hanya akan membahas tentang jenis-jenis hubungan pada belitan transformator 3 phasa, yang terkadang membuat bingung bagi yang baru mempelajarinya.





Pada prinsipnya metode atau cara merangkai belitan kumparan di sisi primer dan sekunder Transformator, umumnya dikenal 3 cara untuk merangkainya, yaitu hubungan bintang, hubungan delta, dan hubungan zig zag.

1. Trafo 3 fasa Hubung Bintang Bintang (Y-Y)

Pada jenis ini ujung ujung pada masing masing terminal dihubungkan secara bintang. Titik netral dijadikan menjadi satu. Hubungan dari tipe ini lebih ekonomis untuk arus nominal yang kecil,pada transformator tegangan tinggi



Gambar 6 Trafo Hubungan Bintang Bintang

2. Trafo Hubung Segitiga-Segitiga (? - ?)

Pada jenis ini ujung fasa dihubungkan dengan ujung netral kumparan lain yang secara keseluruhan akan terbentuk hubungan delta/ segitiga. Hubungan ini umumnya digunakan pada sistem yang menyalurkan arus besar pada tegangan rendah dan yang paling utama saat keberlangsungan dari pelayanan harus dipelihara meskipun salah satu fasa mengalami kegagalan.



Gambar 7 Trafo Hubungan Delta Delta

3. Trafo Hubung Bintang Segi tiga ( Y - ?)

Pada hubung ini, kumparan pafa sisi primer dirangkai secara bintang (wye) dan sisi sekundernya dirangkai delta. Umumnya digunakan pada trafo untuk jaringan transmisi dimana tegangan nantinya akan diturunkan (Step- Down).

Perbandingan tegangan jala- jala 1/v3 kalinperbandingan lilitan transformator. Tegangan sekunder tertinggal 300 dari tegangan primer.


 
Gambar 8 Trafo Hubungan Bintang Delta

4. Trafo Hubungan Segitiga Bintang (? - Y)

Pada hubung ini, sisi primer trafo dirangkai secara delta sedangkan pada sisi sekundernya merupakan rangkaian bintang sehingga pada sisi sekundernya terdapat titik netral. Biasanya digunakan untuk menaikkan tegangan (Step -up) pada awal sistem transmisi tegangan tinggi. Dalam hubungan ini perbandingan tegangan 3 kali perbandingan lilitan transformator dan tegangansekunder mendahului sebesar 30� dari tegangan primernya.


 
Gambar 9 Trafo Hubungan Delta Bintang

5. Hubungan Zig Zag

Kebanyakan transformator distribusi selalu dihubungkan bintang, salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh transformator tersebut adalah ketiga fasanya harus diusahakan seimbang. Apabila beban tidak seimbang akan menyebabkan timbulnya tegangan titik bintang yang tidak diinginkan, karena tegangan pada peralatan yang digunakan pemakai akan berbeda-beda.Untuk menghindari terjadinya tegangan titik bintang, diantaranya adalah dengan menghubungkan sisi sekunder dalam hubungan Zigzag.

Dalam hubungan Zig-zag sisi sekunder terdiri atas enam kumparan yang dihubungkan secara khusus (lihat gambar)


 
Gambar 10 Trafo Hubungan Zig Zag

Ujung-ujung dari kumparan sekunder disambungkan sedemikian rupa, supaya arah aliran arus didalam tiap-tiap kumparan menjadi bertentangan. Karena e1 tersambung secara berlawanan dengan gulungan e2, sehingga jumlah vektor dari kedua tegangan itu menjadi :

eZ1 = e1 � e2
eZ2 = e2 � e3
eZ3 = e3 � e1
eZ1 + eZ2 + eZ3 = 0 = 3 eb

Tegangan Titik Bintang
eb = 0
e1 = e/2
nilai tegangan fasa
ez =  e/2 v3
sedangkan tegangan jala jala
Ez = ez v3 = e/2 v3

6. Transformator Tiga Fasa dengan Dua Kumparan

Selain hubungan transforamator seperti telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya, ada transformator tiga fasa dengan dua kumparan. Tiga jenis hubungan yang umum digunakan adalah :
  • V - V atau � Open ? �
  • � Open Y - Open ? �
  • Hubungan T � T

Hubungan Open Delta

Ini dimungkinkan untuk mentransformasi sistem tegangan 3 fasa hanya menggunakan 2 buah trafo yang terhubung secara open delta. Hubungan open delta identik dengan hubungan delta delta tetapi salah satu trafo tidak dipasang. Hubungan ini jarang digunakan karena load capacity nya hanya 86.6 % dari kapasitas terpasangnya.

Sebagai contoh:


Jika dua buah trafo 50 kVA dihubungkan secara open delta, maka kapasitas terpasang yangseharusnya adalah 2 x 50 = 100 kVA. Namun, kenyatannya hanya dapat menghasilkan 86.6 kVA, sebelum akhirnya trafo mengalami overheat. Dan hubungan open delta ini umumnya digunakan dalam situasi yang darurat.


 
Gambar 11 Trafo Hubungan open Delta / V � V

Kekurangan Hubungan ini adalah :
  • Faktor daya rata-rata, pada V - V beroperasi lebih kecil dari P.f beban, kira kira 86,6% dari faktor daya beban seimbang.
  • Tegangan terminal sekunder cenderung tidak seimbang, apalagi saat beban bertambah.
Gambar 13 Trafo hubungan Open Y open Delta

Hubungan Open Y - Open ? diperlihatkan padaGambar diatas, ada perbedaan dari hubungan V - V karena penghantar titik tengah pada sisi primer dihubungkan ke netral (ground). Hubungan ini bisa digunakan pada transformator distribusi.

Hubungan Scott atau T - T

Hubungan ini merupakan transformasi tiga fasa ke tiga fasa dengan bantuan dua buah transformator (Kumparan). Satu dari transformator mempunyai �Centre Taps � pada sisi primer dan sekundernya dan disebut � Main Transformer�. Transformator yang lainnya mempunyai �0,866 Tap� dan disebut �Teaser Transformer �. Salah satu ujung dari sisi primer dan sekunder �teaser Transformer� disatukan ke � Centre Taps� dari � main transformer �. � Teaser Transformer� beroperasi hanya 0,866 dari kemampuan tegangannya dan kumparan � main transformer � beroperasi pada Cos 30 � = 0,866 p.f, yang ekuivalen dengan � main transformer � bekerja pada 86,6 % dari kemampuan daya semunya



 Gambar 12 Hubungan Scott atau T-T

Kesimpulannya adalah Transformator 3 fasa banyak di aplikasikan untuk menangani listrik dengan daya yang besar. Terdapat berbagai macam hubungan pada trafo tiga fasa yang dalam penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan rating tegangan yang akan dipikulnya.

Salah satu hubungan pada trafo tiga fasa yang sering di pakai adalah Hubungan Delta Bintang dan Bintang Delta, kedua jenis hubungan ini biasanya dipakai dalam sistem tenaga listrik khususnya pada bagian transmisi listrik untuk menaikkan tegangan (?-Y) dan menurunkan tegangan (Y - ? ). Untuk suatu keadaan darurat, trafo hubung delta dapat dibuat menjadi open delta namun dengan kapasiatas hanya 86.6 % dari kapasitas terpasangnya.


Sumber:
Sumardjati, Prih, dkk & http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..

Minggu, 11 Agustus 2013

Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa sensor suhu termokopel memiliki nilai output yang kecil pada kondisi level noise yang tinggi (baca artikel sebelumnya tentang "Termocouple Sebagai Perangkat Sensor Suhu") , maka nilai output tersebut memerlukan pengkondisian sinyal agar nilai output tersebut dapat dibaca. 
Gambar berbagai macam jenis Digital Temperature Controller

Terbacanya nilai output dari termokopel tersebut tentunya membutuhkan sebuah peralatan elektonik digital terpadu yang dinamakan Thermocouple Amplifier Digital yang lebih dikenal dikalangan teknik kelistrikan industri sebagai "Digital Temperature Controller"

Digital Temperature Controller ini adalah alat yang bisa mengontrol suhu untuk mengendalikan cooler / heater sesuai dengan settingan yang diinginkan. Sama seperti prinsip kerja Digital Counter relay, Digital Thermostat ini mempunyai kontak-kontak NO NC pada output settingnya, serta membutuhkan input power supply dalam kerjanya.

Gambar dasar terminal Digital Temperature Controller


Penyambungan

Dalam sebuah rangkaian sederhana dari peralatan ini dapat saya jelaskan sebagai berikut.

Peralatan yang dibutuhkan: Oven masak listrik non auto (atau oven tradisional biasa dengan kompor listrik), Digital Temperature Controller type REX-C100, kabel, stop kontak dan sebuah Termokopel. Perhatikan gambar dibawah ini..
klik gambar untuk memperbesar

Pada gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut.
  • Kabel power supply input pada terminal nomor 1 (coklat) dan nomor 2 (biru)
  • Kabel Netral di terminal nomor 2, masuk juga ke terminal netral stop kontak (biru besar)
  • Kabel Phasa pada terminal nomor 1, masuk juga ke terminal nomor 3 (biru pendek)
  • Terminal nomor 4 masuk ke terminal fasa stop kontak (coklat pendek)
  • Terminal nomor 3 dan 4 adalah kontak NO yang nantinya bekerja memutus supply listrik dari stop kontak ke peralatan oven masak, sesuai temperatur yang diinginkan
  • Terminal nomor 9 dan 10 (merah dan biru) adalah terminal input dari termokopel
  • Kabel Ground (Kuning Hijau) diabaikan
Cara kerja

Sebelumnya ketahui dulu spesifikasi peralatan Digital Temperature Controller tipe REX-C100 dibawah ini.

Dan untuk mengenali lebih jauh cara settingnya, mungkin anda harus membaca telebih dahulu buku petunjuknya disini instruction manual of the RKC INSTRUMENT Rex C-100 PID controller. Karena tidak mungkin bagi saya menjelaskan secara detail tentang cara setting peralatan ini, dikarenakan terlampau panjang.

Setelah selesai menyetting, maka masukkan kabel power supply Digital Temperature Controller ke stop kontak jala-jala listrik rumah. Lalu masukkan juga kabel power supply oven (atau kompor listrik, pada oven tradisional) ke stop kontak dari Digital Temperature Controller. Setelah itu masukkan termokopelnya kedalam oven masak dengan mempertimbangkan letak pemasangannya, agar secara tepat mengukur suhu ruang oven dan tidak mengganggu fungsi oven masak dalam kerjanya.

Termokopel akan mengukur suhu oven sesuai dengan suhu tinggi stabil yang diinginkan. Setelah suhu didalam oven mencapai suhu tinggi yang dimaksud, maka kontak relay NC yang menghubungkan sumber listrik power supply oven akan terbuka dan memutuskan sumber listrik. Sehingga oven akan dalam kondisi off hinga mencapai suhu turun settingan. Setelah mencapai suhu turun  tertentu, maka kontak NO akan terhubung kembali dan mencapai lagi suhu tinggi settingan. Begitu seterusnya hingga suhu didalam oven akan tetap stabil dan mencapai satuan waktu settingan tertentu (waktu masak) dan menjaga agar makanan yang kita masak tidak mengalami kelebihan suhu masak atau rusak (hangus).

Selamat mencoba..

Catatan:
Digital Temperature Controller yang dicontohkan diatas adalah contoh yang sederhana, masih ada lagi contoh-contoh lainnya dari peralatan Digital Temperature Controller yang mempunyai spesifikasi khusus untuk penggunaan yang khusus pula. Tetapi sebagai dasar pengetahuan tentang sistem kerja Digital Temperature Controller, saya rasa contoh diatas sudahlah cukup.

Terimakasih.. selamat belajar..

______________________________
Sumber: http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..
Dasar Termokopel

Sensor merupakan piranti yang digunakan untuk mendeteksi dan mengukur magnitude sesuatu. Sensor merupakan tranduser yang digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, menjadi tegangan dan arus listrik. Sensor dikategorikan sebagai pengukur dan mempunyai peranan penting dalam pengendalian proses pabrikasi otomatis.

Termokopel merupakan sensor suhu yang terdiri atas sepasang penghantar yang berbeda disambung las atau dileburkan bersama pada satu sisi membentuk penghantar �hot� atau sambungan pengukuran yang ada ujung ujung bebasnya untuk menghubungkan dengan penghantar �cold� atau sambungan referensi. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.




Perbedaan suhu antara sambungan pengukuran dan sambungan referensi alat ini berfungsi sebagai termokopel dan bisa membangkitkan tegangan dc yang kecil. Tegangan output termokopel hampir berbanding lurus dengan perbedaan suhu antara sambungan pengukuran (hot) dan sambungan referensi (cold). Perbandingan yang konstan dinamakan Koefisien Seeback dan berkisar antara 5 sampai 50 V per derajat celcius.

Disini saya tidak akan membahas lebih jauh tentang teori termokopel ini secara luas, cukup anda mengetahui bahwa termokopel adalah sebagai sensor suhu yang mampu mengukur suhu sangat tinggi sehingga sensor suhu termokopel ini sering digunakan untuk industri pengolahan minyak atau baja, termasuk pengukuran suhu, gas buang turbin, mesin diesel, dan proses industri lainnya.


Tipe-Tipe dan Jenis Termokopel

Ketika memilih termokopel kita harus juga mempertimbangankan jenis pengisolasian dan konstruksi probenya. Karena semua ini akan memiliki efek pada suhu kisaran, akurasi suhu terukur, dan keandalan pembacaannya. Di bawah ini dapat dilihat jenis-jenis termokopel yang secara umum dipakai dikalangan industri.

Tipe K (Chromel / Alumel)
Tipe K adalah termokopel yang berbiaya murah dan umum digunakan, karena popularitasnya itu termokopel jenis ini tersedia dalam berbagai macam probe.termokopel tersedia untuk rentang suhu di -200 � C sampai +1200 � C. Sensitivitasnya adalah kira-kira 41 v / � C.

Tipe E (Chromel / konstanta)
Tipe E memiliki output yang tinggi (68 v / � C) yang membuatnya cocok untuk digunakan pada suhu rendah (cryogenic).  Properti lainnya dari tipe E ini adalah tipe non magnetik.

Tipe J (Iron / konstanta)
Jangkauan pengukurnnya terbatas, hanya -40 hingga 750 � C membuat termokopel jenis ini kurang populer dibandingkan dengan tipe K. Termokopel tipe J ini tidak boleh digunakan di atas 760 � C.

Tipe N (Nicrosil / Nisil)
Stabilitas tinggi dan ketahanannya terhadap oksidasi suhu tinggi membuat tipe N cocok untuk pengukuran suhu tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 �C. Sensitifitasnya sekitar 39 �V/�C pada 900 �C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N merupakan perbaikan dari tipe K

Termokopel tipe B, R dan S adalah termokopel 'logam mulia'. Semuanya  (tipe B,R,S) adalah yang paling stabil dari semua termokopel yang ada, namun karena sensitivitasnya yang rendah (kira-kira 10 v / � C), mereka biasanya hanya digunakan untuk pengukuran suhu tinggi (> 300 � C).

Tipe B (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1800 � C. Disebut termokopel "B" karena bentuk suhu / tegangan kurva mereka  yang menyerupai huruf "B", dan memberikan output yang sama pada 0 � C dan 42 � C. Hal ini membuat mereka tidak bisa ddigunakan pada suhu di bawah 50 � C. 

Type R (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1600 � C. Sensitivitasnya yang rendah (10 v / � C) dan biayanya yang tinggi, membuat termokopel ini tidak cocok untuk digunakan pada pengukuran umum.

Type S (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1600 � C. Sensitivitasnya yang rendah (10 v / � C) dan biayanya yang tinggi membuat mereka tidak cocok untuk digunakan pada pengukuran umum. Karena tipe S sangat tinggi stabilitasnya, maka sering digunakan sebagai standar kalibrasi untuk titik leleh emas (1064.43 � C).

Type T (Copper / Constantan)
Cocok untuk pengukuran antara -200 to 350 �C. Konduktor positif terbuat dari tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43 �V/�C

Ketika memilih jenis termokopel, anda harus memastikan bahwa peralatan ukur anda tidak membatasi rentang suhu yang dapat diukur. Kisaran suhu yang dapat diukur adalah 8 channel Pico TC-08. Perhatikan juga bahwa termokopel dengan sensitivitas rendah (B, R dan S), memiliki resolusi yang lebih rendah.

______________________________
Sumber: http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..

Selasa, 25 September 2012

Sebelumnya klik disini untuk apa dan bagaimana kontruksi dan kerja mesin gulung. Berikut ini adalah gambar Wiring Diagram Otomatis Mesin Gulung



Keterangan:

ON, OFF =  Push Button
R, R1, R2, R3 = Relay Contactor
SV1 = Selenoid Valve Brake
SV2 = Selenoid Valve Cutting

Cara Kerja:

Perhatikan gambar Wiring Diagram Otomatis Mesin Gulung yang telah saya format dalam extension gif dibawah ini, dimana warna garis biru menggambarkan arus listrik yang mengalir.



no.1
adalah keadaan dimana arus listrik berhenti pada keadaan MCB terbuka

no.2
pada saat MCB tertutup, arus listrik akan menyalakan Counter Relay

no.3
gambar no.3 ini menjelaskan sesaat setelah tombol ON ditekan, dan menghidupkan R dan MC dari motor. Saat inilah Proximity Switch bekerja menghitung jumlah putaran mesin, melalui Counter relay.

no.4
  • Saat Counter relay selesai menghitung maka NCnya akan terbuka dan mematikan MC, dan NOnya akan tertutup dan menyalakan T1, R1 dan SV brake
  • NC dari R1 yang juga terhubung ke MC akan terbuka untuk nantinya terpakai dalam keadaan reset pada Counter Relay, 
  • Pada saat bersamaan, NC dari T1 akan menghidupkan SV brake yang menghentikan putaran sisa motor.
  • Beberapa detik selanjutnya NC dari T1 akan terbuka dan mematikan SV brake, begitu juga NO dari T1 yang paralel dengan NO dari CR akan tertutup, yang nantinya akan juga terpakai dalam keadaan reset pada Counter Relay.
no.5
NO dari T1 ini akan tertutup dan menyalakan T2 dan SV cutting.

no.6
Beberapa detik kemudian NO dari T2 akan tertutup dan menghidupkan T3 serta R2

no.7
  • Pada saat R2 hidup, NOnya akan mereset Counter Relay dan mengembalikan fungsi NO dan NCnya seperti semula.
  • Coba perhatikan penjelasan saya pada poin no.4, arus yang mengalir akan tidak berpengaruh pada rangkaian ketika fungsi NO dan NC dari Counter Relay kembali normal.
  • Pada gambar diatas, sengaja saya ulang poin no.6 dan no.7
no.8
NO dari T3 akan tertutup dan menyalakan R3

no.9
  • Pada saat bersamaan NC dari R3 yang terpasang diantara tombol ON dan OFF akan terbuka, dan memutus arus pada rangkaian. Sama persis kerjanya dengan fungsi tombol OFF.
  • Pada gambar diatas, sengaja saya ulang poin no.8 dan no.9
no.10
Ketika NC dari R3 kembali normal, maka rangkaian telah siap kembali dihidupkan seperti semula.

Untuk mempelajari kerja rangkaian ini, ada baiknya Anda perhatikan gambar diatas dan save gambar bila perlu.

Demikian saja penjelasan tentang Wiring Diagram Otomatis Mesin Gulung ini, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan Anda tentang wiring diagran otomatis, yang secara prinsip sederhananya adalah sama, yakni memanfaatkan NO dan NC.

Selamat belajar..

_______________________________
Read More..

Rabu, 12 September 2012

Pada posting kali ini saya akan membuat wiring diagram automatis sederhana dari sebuah mesin yang saya ciptakan dari khayalan saya sendiri. Walaupun hanya berupa khayalan, tetapi wiring diagram ini akan menjelaskan semua materi dasar yang pernah saya posting sebelumnya, antara lain:
  1. Fungsi dasar kerja NO dan NC
  2. Fungsi dan kerja Magnetic Contactor
  3. Fungsi dan kerja Relay Contactor
  4. Fungsi dan kerja TDR Time Delay Relay
  5. Fungsi dan kerja Thermal Overload Relay
  6. Fungsi dan kerja Proximity Switch
  7. Fungsi dan kerja Digital Counter Relay
  8. Fungsi dan kerja Pneumatic dan Selenoid Valve
Semua materi tersebut diatas akan menjadi sebuah rangkaian kerja berurutan, dan diharapkan dapat menjadi dasar pengetahuan anda tentang bagaimana merakit dan menciptakan sendiri sebuah rangkaian automatis. Karena pada dasarnya semua penciptaan teknologi baru, berawal dari sebuah khayalan.

Baiklah... lihat gambar dibawah ini


klik gambar untuk memperbesar

Cara kerja mesin
  1. Saat tombol ON ditekan, motor akan berputar dan memutar juga rolling product melalui belt yang terpasang dibawahnya.
  2. Sensor membaca jumlah putaran dari rolling product yang menggulung bahan, sesuai nilai yang telah ditetapkan pada counter relay.
  3. Saat jumlah gulungan telah selesai, kontaktor motor dinamo akan lepas dan pneumatic brake akan bekerja (�0.5~1 detik) menghentikan putaran dinamo.Setelah lepas brakenya, pneumatic cutting akan bekerja (�0.5~1 detik) memotong product.
  4. Setelah selesai memotong, counter secara otomatis mereset SV menjadi 0 kembali.
  5. Dan mesin telah siap kembali dihidupkan, setelah operator mengambil dan mengemas product, serta memasang bahan kembali.
dibawah ini saya sertakan juga gambar visualisasi pneumatik brake dan cutting yang terdapat pada mesin khayalan saya..

Pneumatic Brake

Pneumatic Cutting

Konstruksi dari pneumatik brake dan cutting diatas adalah kontruksi umum, dimana saya hanya mejelaskan saja bagaimana brake dan cutting procces itu bekerja. Silahkan anda mengembangkannya lebih lanjut, khususnya yang mendalami bidang mechanical machine.

Wiring Diagram

Untuk pembahasan wiring diagram nya, silahkan klik disini.
Terimakasih..

______________________________
Sumber: http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..

Minggu, 09 September 2012

Solenoid valve pneumatic adalah katup yang digerakan oleh energi listrik, mempunyai kumparan sebagai penggeraknya yang berfungsi untuk menggerakan plunger yang dapat digerakan oleh arus AC maupun DC. Solenoid valve pneumatic atau katup (valve) solenoida mempunyai lubang keluaran, lubang masukan, lubang jebakan udara (exhaust) dan lubang Inlet Main. Lubang Inlet Main, berfungsi sebagai terminal / tempat udara bertekanan masuk atau supply (service unit), lalu lubang keluaran (Outlet Port) dan lubang masukan (Outlet Port), berfungsi sebagai terminal atau tempat tekanan angin keluar yang dihubungkan ke pneumatic, sedangkan lubang jebakan udara (exhaust), berfungsi untuk mengeluarkan udara bertekanan yang terjebak saat plunger bergerak atau pindah posisi ketika solenoid valve pneumatic bekerja.


Prinsip Kerja


Prinsip kerja dari solenoid valve/katup (valve) solenoida yaitu katup listrik yang mempunyai koil sebagai penggeraknya dimana ketika koil mendapat supply tegangan maka koil tersebut akan berubah menjadi medan magnet sehingga menggerakan plunger pada bagian dalamnya ketika plunger berpindah posisi maka pada lubang keluaran dari solenoid valve pneumatic akan keluar udara bertekanan yang berasal dari supply (service unit), pada umumnya solenoid valve pneumatic ini mempunyai tegangan kerja 100/200 VAC namun ada juga yang mempunyai tegangan kerja DC.


 Gambar struktur fungsi solenoid valve pneumatic

Berikut keterangan gambar Solenoid Valve Pneumatic:
  1. Valve Body
  2. Terminal masukan (Inlet Port)
  3. Terminal keluaran (Outlet Port)
  4. Manual Plunger
  5. Terminal slot power suplai tegangan
  6. Kumparan gulungan (koil)
  7. Spring
  8. Plunger
  9. Lubang jebakan udara (exhaust from Outlet Port)
  10. Lubang Inlet Main
  11. Lubang jebakan udara (exhaust from inlet Port)
  12. Lubang plunger untuk exhaust Outlet Port
  13. Lubang plunger untuk Inlet Main
  14. Lubang plunger untuk exhaust inlet Port
 Dibawah ini dapat dilihat cara kerja plunger selenoid valve pneumatic  dalam menyalurkan udara bertekanan kedalam tabung pneumatik (silinder pneumatik kerja tunggal), yang telah saya animasikan.


Cara Kerja Sistem Pneumatic



Kompressor diaktifkan dengan cara menghidupkan penggerak mula umumnya motor listrik. Udara akan disedot oleh kompresor kemudian ditekan ke dalam tangki udara hingga mencapai tekanan beberapa bar. Untuk menyalurkan udara bertekanan ke seluruh sistem (sirkuit pneumatik) diperlukan unit pelayanan atau service unit yang terdiri dari penyaring (filter), katup kran (shut off valve) dan pengatur tekanan (regulator).


Service unit ini diperlukan karena udara bertekanan yang diperlukan di dalam sirkuit pneumatik harus benar-benar bersih, tekanan operasional pada umumnya hanyalah sekitar 6 bar. Selanjutnya udara bertekanan disalurkan dengan bekerjanya solenoid valve pneumatic ketika mendapat tegangan input pada kumparan dan menarik plunger sehingga udara bertekanan keluar dari outlet port melalui selang elastis menuju katup pneumatik (katup pengarah/inlet port pneumatic). Udara bertekanan yang masuk akan mengisi tabung pneumatik (silinder pneumatik kerja tunggal) dan membuat piston bergerak maju dan udara bertekanan tersebut terus mendorong piston dan akan berhenti di lubang outlet port pneumatic atau batas dorong piston.

Klik disini untuk melihat penggunaannya.

_____________________
_________
Sumber: http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..
Digital Counter Relay atau juga Electronic Counter Relay adalah salah satu peralatan kontrol semi digital yang banyak digunakan pada mesin mesin produksi ringan, umumnya mesin yang membutuhkan akurasi jumlah produk dan khususnya mesin mesin yang mengandalkan gerak putar dalam mengemas produk produknya. Counter Relay ini kompatible dengan berbagai macam jenis sensor, asalkan sesuai dengan nilai input sensor yang telah ditetapkan pabrikan pembuatnya. Dan memang penggunaan Counter Relay ini harus selalu menggunakan sensor proximity sebagai input untuk menghasilkan output NO dan NC yang diinginkan sama persis dengan fungsi kerja sensor controller, sehingga pemanfaatannya bisa untuk bermacam macam wiring rangkaian automatis.


Fungsi dari Counter Relay ini adalah menghitung nilai nilai input (PV, Present Value) dari perangkat diteksi (Limit switch, DC(+)Volt atau Proximity switch) sampai tercapai nilai yang telah ditetapkan (SV, Set Value), untuk selanjutnya menggerakkan kontak internal NO dan NC nya. Pada type tertentu, nilai Set Value ini bisa diatur dalam 2 jenis penghitungan,. Yaitu penghitungan nilai naik dan penghitungan nilai menurun. Lihat gambar dibawah ini.



Counter Relay ini mempunyai fungsi NO dan NC output dalam hasil kerja penghitungannya, dan mampu membaca tiga jenis nilai input yang berbeda.
  • Contact signal input: Relay dan Limit switch
  • Electrical level signal input: tegangan Positip (+) (4V-30V)
  • Sensor signal input: Photoswitch approach switch dan Proximity input switch (NPN dan PNP)
Perhatikan gambar terminal yang terdapat pada Counter Relay dari 3 jenis type dibawah ini.


Pada gambar diatas, terdapat persamaan pada fungsi dasar Counter Relay, yaitu nilai input dari sensor dan nilai output pada kontak NC dan NO. selain itu juga ada fungsi reset yang bisa mengulang kembali perhitungan dari 0 kembali atau PV Present Value.
Electronic Digital Counter Relay ini bisa bekerja pada tegangan 36V, 110V, 127V, 220V, 380V 50/60HZ dan juga pada tegangan DC 24Volt pada type dan merk tertentu. Kemampuannya dalam menghitung nilai input pada Counter Relay diatas, bisa mencapai 1-9999(x1x10x100), dan mempunyai kapasitas contact NO dan NC internalnya VAC 250V /5A atau VDC28V /5A.

klik disini untuk membaca wiring diagram sederhana Counter Relay dengan Proximity Switch

______________________
http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..

Sabtu, 08 September 2012

Proximity Switch atau Sensor Proximity adalah alat pendeteksi yang bekerja berdasarkan jarak obyek terhadap sensor. Karakteristik dari sensor ini adalah menditeksi obyek benda dengan jarak yang cukup dekat, berkisar antara 1 mm sampai beberapa centi meter saja sesuai type sensor yang digunakan. Proximity Switch ini mempunyai tegangan kerja antara 10-30 Vdc dan ada juga yang menggunakan tegangan 100-200VAC.


Hampir di setiap mesin mesin produksi sekarang ini menggunakan sensor jenis ini, sebab selain praktis sensor ini termasuk sensor yang tahan terhadap benturan ataupun goncangan, selain itu mudah pada saat melakukan perawatan ataupun perbaikan penggantian.

Proximity Sensor terbagi dua macam, yaitu:
  • Proximity Inductive
  • Proximity Capacitive
Proximity Inductive berfungsi untuk mendeteksi obyek besi/metal. Meskipun terhalang oleh benda non-metal, sensor akan tetap dapat mendeteksi selama dalam jarak (nilai) normal sensing atau jangkauannya. Jika sensor mendeteksi adanya besi di area sensingnya, maka kondisi output sensor akan berubah nilainya.

Proximity Capacitive akan mendeteksi semua obyek yang ada dalam jarak sensingnya baik metal maupun non-metal.

Jarak Diteksi
Jarak diteksi adalah jarak dari posisi yang terbaca dan tidak terbaca sensor untuk operasi kerjanya, ketika obyek benda digerakkan oleh metode tertentu.


Pengaturan jarak
Mengatur jarak dari permukaan sensor memungkinkan penggunaan sensor lebih stabil dalam operasi kerjanya, termasu
k pengaruh suhu dan tegangan. Posisi objek (standar) sensing transit ini adalah sekitar 70% sampai 80% dari jarak (nilai) normal sensing.

Nilai output dari Proximity Switch ini ada 3 macam, dan bisa diklasifikasikan juga sebagai nilai NO (Normally Open) dan NC (Normally Close). Persis seperti fungsi pada tombol, atau secara spesifik menyerupai fungsi limit switch dalam suatu sistem kerja rangkaian yang membutuhkan suatu perangkat pembaca dalam sistem kerja kontinue mesin.

Tiga macam ouput Proximity Switch ini bisa dilihat pada gambar dibawah.


Output 2 kabel VDC
Output 3 dan 4 kabel VDC
Output 2 kabel VAC

Dengan melihat gambar diatas kita dapat mengenali type sensor
Proximity Switch ini, yaitu type NPN dan type PNP. Type inilah yang nanti bisa dikoneksikan dengan berbagai macam peralatan kontrol semi digital yang membutuhkan nilai nilai logika sebagai input untuk proses kerjanya.

Beberapa jenis Proximity Switch ini hanya bisa dikoneksikan dengan perangkat PLC tergantung type dan jenisnya. Sensor ini juga bisa dikoneksikan langsung dengan berbagai macam peralatan kontrol semi digital seperti Sensor Controller dan counter relay digital.

Pada prinsipnya fungsi Proximity Switch ini dalam suatu rangkaian pengendali adalah sebagai kontrol untuk memati hidupkan suatu sistem interlock dengan bantuan peralatan semi digital untuk sistem kerja berurutan dalam rangkaian kontrol.

klik disini untuk membaca wiring diagram Rangkaian Pengendali Kerja Berurutan ______________________________
Sumber: http://electric-mechanic.blogspot.com
Read More..